F Menemukan Jalan Pulih Bersama Ruang Pulih: Mengasuh Kembali Inner Child yang Terluka - Kabarini.com

Menemukan Jalan Pulih Bersama Ruang Pulih: Mengasuh Kembali Inner Child yang Terluka


Menemukan Jalan Pulih Bersama Ruang Pulih –
Hujan turun dengan derasnya. Alam tiba-tiba serasa kelabu. Membuat jarak pandang menjadi pendek. Aku bahkan tak bisa melihat lampu kendaraan lain. 

Jas hujan tak lagi bisa melindungi pakaianku. Aku basah kuyup. Dan rasa dingin mencengkeram tubuhku kuat-kuat.

Angin berhembus amat sangat kencang. Membuat motorku berkali-kali hampir oleng. Lajunya tak bisa kukendalikan dengan baik.

Pelan, kutepikan motor ke depan deretan ruko yang sedang tutup. Aku pun turun dan segera berteduh. Dalam kesendirian, kupandangi langit yang begitu gelap lekat-lekat. Sementara di kejauhan, dahan-dahan pepohonan mulai bertumbangan.

Kemana rasa takutku? Ia hilang. Aku tak merasakan kengerian apapun. Adakah yang salah denganku?

Diri yang Tak Baik-Baik Saja

Kota Depok yang biasanya ramai. Tiba-tiba menjelma menjadi kota mati. Orang yang biasa beraktifitas sampai larut malam tak banyak terlihat. 

Pasien covid-19 pertama kali terkonfirmasi di Depok. Semua orang ketakutan. Panic buying terjadi. Masker di apotik-apotik ludes diborong. Orang-orang berebut menumpuk kebutuhan pokok.

Depok mulai sakit. Indonesia dilanda sedih. Diri ini pun juga tak baik-baik saja.

Hujan yang tak kunjung reda. Membuatku harus menunggu, bertahan. Entah berapa jam lagi. Tanda-tanda hujan akan reda tak juga terlihat.

Kuhampiri tetesan air dari atap ruko. Kutengadahkan telapak tanganku. Menyambut air dingin.

Aku ingin ada sesuatu yang meresap ke dalam hati. Sendu dan sedih, agar aku bisa menangis. Tapi yang terjadi, aku masih saja terpaku. Tak tahu, tak bisa merasakan apa yang berkecamuk dalam hati.

Sudah sejak lama. Tubuhku mulai lemah, cepat lelah. Pikiranku semakin tak terkendali, cepat cemas. Perasaanku cenderung cepat berubah, mood swing parah.

Lama aku mengidap insomnia. Membuat mataku kerap kali kuning saat bangun tidur. Kepalaku sering terserang migrain jika ada sedikit saja beban pekerjaan dan gesekan dengan rekan kerja.

Kerap pula aku menangis tanpa sebab. Cepat tersinggung dan selalu iri pada kehidupan orang lain. Merasa insecure dan rendah diri.

Sungguh aku tak baik-baik saja. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Mengalami Masa-Masa Burn Out

Aku nekat. Memutuskan berhenti bekerja di masa pandemi. Lalu pulang kampung dengan beribu keputusasaan.

Sementara hutang menumpuk karena kesalahan pengelolaan keuangan. Mencari pekerjaan baru juga tak lagi mudah. Resmilah aku menjadi pengangguran.

Aku tak ada pemasukan. Hidup menumpang dari rumah orang tua ke rumah saudara. Mencoba bertahan dengan segala kekurangan. Belum lagi teror dari para debt collector.

Aku tak bisa berpikir. Merencanakan masa depan sudah tak sanggup lagi. Rasanya, semua langkah terasa mentok. Aku semakin tersesat. Menjalani hari-hari seperti mayat hidup.

Makan, tidur, merenung, menangis. Makan, tidur, merenung, menangis. Makan, tidur, merenung, menangis. Begitu terus sampai berbulan-bulan lamanya.  

Menemukan Jalan Pulih Bersama Ruang Pulih

Aku kalah. Aku mengaku kalah. Tapi ada sedikit ingin yang memintaku untuk bangkit. Sebab aku belum ingin mati. Apalagi harus mati sia-sia.

Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanya menulis. Maka kugunakan sisa semangat dan energi untuk menulis. Kembali aktif ngeblog. Aktifitas yang sempat aku tinggalkan.

Perlahan, kondisi mulai berubah. Aku memutuskan untuk berdamai dengan segala ketidaknyamanan.

Tawaran pekerjaan sebagai content writer  pun datang. Meski hanya sedikit nominal yang kuterima. Tapi kujalani dengan profesional. Membuat artikel yang bagus. Setidaknya tidak plagiat atau sekedar copy paste saja.

Sedikit-sedikit kukumpulkan uang untuk membeli benih. Aku berkebun di rumah dan di ladang kecil. Tujuanku, aku hanya ingin menghidupkan kembali keterampilan di bidang pertanian –berkebun di rumah–.

Aku senang, aku merasa mulai berhasil mengendalikan segala hal yang terjadi padaku. Aku sembuh, tak lagi merasa tersesat.

Sampai akhirnya, pikiran itu harus aku revisi. Saat seorang teman tiba-tiba mengirim chat via WA. Mengajakku untuk mengikuti program Inner Child Healing Ambasador For Indonesia.

Katanya aku membutuhkannya. Tentu ia tahu, sebab aku sering curhat kepadanya.

Memahami dan Mengenal Inner Child

Aku mengikuti saran temanku dan mendaftar melalui Mbak Wiwin. Salah satu koordinator dari program Inner Child Healing Ambasador For Indonesia.

Sebelumnya saya pernah mendengar istilah tentang inner child healing. Tapi jujur, saya tak benar-benar memahaminya.

Program ini diinisiasi oleh Mbak Intan Maria Lie dan Mas Adi Prayuda. Keduanya adalah penulis buku bertajuk ‘Luka Bahagia Performa’.

Mbak Intan sendiri seorang Praktisi Psikolog. Sedangkan Mas Adi adalah seorang pemandu di Santhosa-Emotional Healing dan Chief Mindfulness Officer.

Program ini akan berlangsung selama 6 bulan sampai 1 tahun lamanya. Kenapa selama itu? Karena untuk menyembuhkan inner child  yang terluka tak bisa dalam waktu yang singkat.

Kukatakan, aku sangat bersyukur bisa mengikuti program ini. Kenapa? Segala hal yang terjadi dalam hidupku. Takut, sedih, cemas, putus asa, rendah diri, yang berceceran seperti potongan-potongan puzle. Bisa aku pahami penyebabnya.

Yap, semua hal itu bisa jadi sangat berkaitan erat dengan inner child. Dan di program ini, aku bisa mengenal dan memahami tentang apa itu innerchild? Apa pengaruhnya ke perasaan dan emosiku serta karakterku sekarang? Jika innerchild terluka, apa yang bisa aku lakukan untuk mengobatinya?

Inner Child Healing Ambasador For Indonesia

Ada banyak yang ingin aku tumpahkan dalam tulisan ini. Tapi tentu tak bisa sekaligus. Aku harus membaginya ke dalam part-part pembahasan.

Kali ini, aku mulai dengan tulisan pembuka. Cerita tentang kondisiku dan sedikit tentang program Inner Child Healing Ambasador For Indonesia.

Program ini sudah berjalan hampir 2 minggu lamanya. Sudah banyak insight dan hal positif yang aku dapatkan.

Setiap minggu, selalu ada webinar terkait inner child denga para praktisi yang profesional. Yang tak saya sangka, salah satu pematerinya adalah Mas Adji Santoso Putro. Sudah lama saya mengikuti IG beliau untuk mendapatkan pencerahan.

Bisa mendengar langsung wejangan beliau, rasanya sangat menyenangkan. Coach yang lain tentu banyak. Nanti saya akan menuliskan profil mereka ya di tulisan selanjutnya. Yang jelas, diakhir parade akan ada Kak Seto loh.

Teman-teman bisa banget mengikuti program ini. Masih akan ada sekitar 3 webinar lagi. Silahkan teman-teman follow IG @ruangpulih untuk informasi ter-update.

Selain webinar, ada juga kelas inner child theraphy  bersama Dr. I Gusti Rai Wiguna SpKJ dan Mbak Intan selama 7 hari. Di kelas ini kita benar-benar dibimbing bagaimana cara mengobati luka innerchild di masa lalu.

Aku sudah berkomitmen untuk tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku benar-benar ingin sembuh dari luka masa kecil. Demi kehidupan yang lebih bermakna. Sebab aku tak ingin anak-anakku kelainner child terluka karena perbuatanku.

Jadi, aku siap menjadi Inner Child Healing Ambasador For Indonesia . Bagaimana kisahku bersama kelas ini? Akan aku ceritakan di artkel-artikel selanjutnya. Kemungkinan ada total 7 artikel yang akan saya tulis. Tapi bisa jadi lebih.

Oke, teman-teman. Sekian dulu ceritaku ya. Semoga kisahku untuk menemukan jalan pulih bersama ruang pulih bisa bermanfaat untuk kalian. 

CONVERSATION

0 Komentar :

Posting Komentar

search